Showing posts with label Seputar Permasalahan Kandang. Show all posts
Showing posts with label Seputar Permasalahan Kandang. Show all posts

Pengendalian Lalat

Di sebuah peternakan, seperti telah menjadi sebuah tradisi, suatu saat bahkan setiap saat dapat ditemukan sekawanan lalat, terlebih lagi saat musim penghujan. Kadang kala keberadaan lalat diabaikan oleh peternak, namun suatu saat adanya lalat ini membuat peternak pusing dan kebingungan mengusir maupun mengatasinya. Bahkan belakangan ini, keberadaan lalat telah berhasil memberikan “kesan dan pesan” tersendiri.
Lalat sejenis serangga yang selalu dan sering kali kita temukan berterbangan di dalam kandang. Kita telah tahu bahwa lalat bukan penyebab penyakit pada ayam karena tidak ada “penyakit lalat” (seperti penyakit Gumboro yang disebabkan oleh virus Gumboro). Oleh karenanya kita sering mengabaikan keberadaan lalat ini. Tapi, benarkan lalat tidak perlu memperoleh “hati’ kita (peternak, red.)? Sudah benarkah kita mengabaikannya?

Mengenal Lalat

Lalat termasuk dalam kelompok serangga yang berasal dari subordo Cyclorrapha dan ordo Diptera. Secara morfologi, lalat mempunyai struktur tubuh berbulu, mempunyai antena yang berukuran pendek dan mempunyai sepasang sayap asli serta sepasang sayap kecil (berfungsi menjaga kestabilan saat terbang). Lalat mampu terbang sejauh 32 km dari tempat perkembangbiakannya. Meskipun demikian, biasanya lalat hanya terbang 1,6-3,2 km dari tempat tumbuh dan berkembangnya lalat.
Lalat juga dilengkapi dengan sistem penglihatan yang sangat canggih, yaitu adanya mata majemuk. Sistem penglihatan lalat ini terdiri dari ribuan lensa dan sangat peka terhadap gerakan. Bahkan ada beberapa jenis lalat yang memiliki penglihatan tiga dimensi yang akurat. Model penglihatan lalat ini juga menjadi “ilham” bagi ilmuwan kedokteran untuk menciptakan sebuah alat pencitraan (scan) baru.
Mata lalat dapat mengindra getaran cahaya 330 kali per detik. Ditinjau dari sisi ini, mata lalat enam kali lebih peka daripada mata manusia. Pada saat yang sama, mata lalat juga dapat mengindra frekuensi-frekuensi ultraviolet pada spektrum cahaya yang tidak terlihat oleh kita. Perangkat ini memudahkan lalat untuk menghindar dari musuhnya, terutama di lingkungan gelap.
Visualisasi seekor lalat

Beberapa jenis lalat dapat menyerang suatu peternakan. Namun 95% jenis lalat yang sering ditemukan dipeternakan ialah lalat rumah (Musca domestica) dan little house fly (Fanny canicularis). Jenis lalat lainnya seperti lalat buah (Lucilia sp.), lalat sampah berwana hitam (Ophyra aenescens) maupun lalat pejuang (soldier flies) juga sering mengganggu lingkungan peternakan.

Siklus Hidup Lalat

Siklus hidup semua lalat terdiri dari 4 tahapan, yaitu telur, larva, pupa dan lalat dewasa. Lalat dewasa akan menghasilkan telur berwarna putih dan berbentuk oval. Telur ini lalu berkembang menjadi larva (berwarna coklat keputihan) di feses yang lembab (basah). Setelah larva menjadi dewasa, larva ini keluar dari feses atau lokasi yang lembab menuju daerah yang relatif kering untuk berkembang menjadi pupa. Dan akhirnya, pupa yang berwarna coklat ini berubah menjadi seekor lalat dewasa. Pada kondisi yang optimal (cocok untuk perkembangbiakan lalat), 1 siklus hidup lalat tersebut (telur menjadi lalat dewasa) hanya memerlukan waktu sekitar 7-10 hari dan biasanya lalat dewasa memiliki usia hidup selama 15-25 hari.
Siklus hidup lalat

Dalam waktu 3-4 hari, seekor lalat betina mampu menghasilkan telur sebanyak 500 butir. Dengan kemampuan bertelur ini, maka dapat diprediksikan dalam waktu 3-4 bulan, sepasang lalat dapat beranak-pinak menjadi 191,01 x 1018 ekor (dengan asumsi semua lalat hidup). Bisa kita bayangkan, dengan kemampuan berkembang biak lalat tersebut dapat memberikan ancaman tersendiri.

Keberadaan Lalat, Berbahaya?

Pernahkah kita mendengar ada penyakit lalat, seperti halnya penyakit Newcastle disease (ND) yang menyerang ayam? Tentu belum pernah. Lalat sebenarnya bukan suatu agen infeksi melainkan peranannya lebih cenderung sebagai vektor atau agen pembawa atau penular penyakit. Peranan lalat menularkan penyakit ini didukung dari bentuk anatomi tubuhnya yang banyak terdapat bulu sehingga bibit penyakit (virus, bakteri, protozoa) melekat dan tersebar ke ternak/hewan lain. Selain itu, lalat juga mempunyai cara makan yang unik, yaitu lalat meludahi makanannya terlebih dahulu sampai makanan tersebut cair baru disedot ke dalam perutnya. Cara makan inilah yang ikut disinyalir sebagai cara bibit penyakit masuk ke dalam tubuh lalat kemudian menulari/menginfeksi ayam. Terlebih lagi kita tahu dan tak jarang menemukan lalat sedang hinggap di ransum ayam.
Dari beberapa literatur juga disebutkan setiap kali lalat hinggap disuatu tempat, maka + 125.000 bibit penyakit dijatuhkan pada lokasi tersebut (wikimedia, 2007). Sungguh mengerikan! Prof. Drh. Hastari Wuryastuty, M.Sc, PhD (2005) peneliti di fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta menyatakan jika seekor lalat yang memiliki berat 20 mg mampu membawa bibit penyakit (virus) sebanyak 10% dari berat badannya, yaitu 2 mg maka lalat tersebut dapat menulari 2.000 ekor ayam. Hal ini disebabkan setiap 1 gram virus dapat menginfeksi satu juta ekor ayam.
Prof. Drh. Hastari Wuryastuty, M.Sc, PhD bersama dengan suaminya, yaitu Prof. Drh. R Wasito, M.Sc, PhD seorang ahli penyakit hewan di fakultas yang sama telah melakukan penelitian peranan lalat terhadap penularan penyakit avian influenza (AI). Dari sampel lalat beku yang telah dikumpulkannya, diperoleh data bahwa lalat yang berasal dari Makasar dan Karanganyar telah dinyatakan positif mengandung virus AI. Penelitian tersebut saat ini masih berlanjut, untuk mengetahui secara pasti pada posisi manakah peranan lalat tersebut dalam penularan AI. Apakah lalat berperan sebagai vektor mekanik atau vektor biologik? Kita tunggu hasil penelitian berikutnya.
Larva dan lalat dewasa juga menjadi hospes intermediet atau inang perantara bagi infeksi cacing pita (Raillietina tetragona dan R. cesticillus) pada ayam. Larva dan lalat dewasa sering kali termakan oleh ayam sehingga ayam dapat terserang cacing pita tersebut. Selain itu, lalat juga berperan sebagai vektor mekanik bagi cacing gilik (Ascaridia galli) maupun bakteri. Lalat yang hinggap di feses atau litter yang telah tercemar bakteri kolera maka lalat tersebut sudah berpotensi menyebarkan kolera pada ayam lainnya.
Larva lalat yang berkembang pada feses yang lembab berpotensi menularkan beberapa bibit penyakit

Selain penyakit, keberadaan lalat juga menjadi penyebab keretakan keharmonisan hubungan sosial antara peternak dengan warga di sekitar lokasi peternakan. Bukan suatu keniscayaan, keberadaan lalat ini menjadi penyebab ditutupnya suatu peternakan. Lalat yang berkembang di peternakan dapat bermigrasi ke arah perkampungan warga dan warga atau masyarakat langsung melayangkan tuduhan bahwa peternakan ayam lah yang menjadi sumber munculnya lalat tersebut.

Bagaimana Pengendalian Lalat ?

Setelah mengetahui akibat berkembangnya lalat di peternakan kita, sudah merupakan suatu kebutuhan bahwa kita harus bisa mengendalikan lalat tersebut. Sudah barang tentu, pengendalian lalat ini membutuhkan teknik yang tepat. Jika tidak, bukan tidak mungkin gara-gara lalat ini kita akan mengalami kerugian yang besar bahkan ditutupnya usaha kita.
Lalat tergolong salah satu insect atau serangga yang “bandel”. Keberadaannya di kandang sangat mudah ditemui, terlebih lagi saat musim penghujan. Beberapa hal yang menjadikan lalat bandel, ialah :
  • Mobilitas lalat sangat tinggi karena dilengkapi dengan sepasang sayap sejati (asli) dan sepasang sayap kecil (yang menstabilkan terbang lalat)
  • Lalat mempunyai sistem penglihatan yang sangat baik, yaitu mata majemuk yang tersusun atas lensa optik yang sangat banyak sehingga lalat mempunyai sudut pandang yang lebar. Kepekaan penglihatan lalat ini 6 x lebih besar dibandingkan manusia. Selain itu, lalat juga dapat mengindra frekuensi-frekuensi ultraviolet pada spetrum cahaya yang tak terlihat oleh manusia. Dengan dua kemampuan ini (mobilitas dan penglihatan), lalat dapat dengan mudah mengubah arah geraknya seketika saat ada bahaya yang mengancam dirinya.
  • Lalat mempunyai kemampuan berkembang biak yang cepat dan dalam jumlah yang banyak. Terlebih lagi jika kondisi lingkungan cocok bagi perkembangbiakan lalat.

Melihat ketiga kemampuan lalat tersebut, maka diperlukan teknik khusus untuk mengatasi atau membasmi lalat. Langkah pengendalian lalat pun harus dilakukan secara komprehensif (menyeluruh) dan terintegrasi. Langkah pengendalian lalat secara garis besar ialah kontrol manajemen, biologi, mekanik dan kimia.
  • Kontrol manajemen
Penanganan feses dengan baik sehingga feses tetap kering merupakan teknik pengendalian lalat yang paling efektif. Kita tahu, feses yang lembab menjadi tempat perkembangbiakan lalat yang sangat baik (termasuk tempat perkembangbiakan bibit penyakit). Dalam 0,45 kg feses yang lembab dapat dijadikan tempat berkembang biak (melangsungkan siklus hidup) 1.000 ekor lalat. Feses yang baru dikeluarkan oleh ayam yang memiliki kadar air sebesar 75-80% merupakan kondisi ideal bagi perkembangbiakan lalat. Feses ini harus segera diturunkan kadar airnya menjadi 30% atau kurang untuk mencegah perkembangbiakan lalat.
Lakukan pembersihan feses minimal 1 x seminggu sehingga dapat memutus siklus perkembangbiakan lalat. Hal ini berdasarkan periode waktu lalat bertelur, yaitu setiap minggu (4-7 hari)

Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk menghambat perkembangbiakan lalat ialah :
  1. Membersihkan feses minimal setiap minggu sekali. Hal ini berdasarkan lama siklus hidup lalat, dimana lalat bertelur setiap seminggu sekali
  2. Berikan ransum dengan kandungan zat nutrisi yang sesuai, terutama kandungan protein kasar dan garam. Ransum dengan kandungan protein kasar dan garam yang tinggi dapat memicu ayam minum banyak sehingga feses menjadi encer (basah)
  3. Jika perlu tambahkan batu kapur maupun abu pada litter sehingga dapat membantu mengembalikan kemampuan tanah menyerap air
  4. Hati-hati saat penggantian atau pengisian tempat minum. Jangan sampai air minum tumpah. Selain itu perhatikan kondisi tempat minum atau paralon dan segera perbaiki kondisi genting yang bocor
  5. Jika feses akan disimpan, keringkan feses terlebih dahulu (kadar air < 30%) dengan cara dijemur diterik matahari (jika memungkinkan). Feses yang disimpan dalam kondisi lembab bisa mempercepat perkembangbiakan larva lalat
  6. Perhatikan sistem sirkulasi udara (ventilasi). Kondisi ventilasi kandang yang baik dapat mempercepat proses pengeringan feses
  7. Lakukan perbaikan pada atap yang bocor
  8. Pastikan intalasi saluran pembuangan air berfungsi baik, jangan biarkan air mengendap

Selain menjaga feses tetap kering, melakukan sanitasi kandang dengan baik juga menjadi langkah tepat untuk mengendalikan perkembangbiakan lalat. Langkah sanitasi yang dapat dilakukan yaitu :
  • Segera buang atau singkirkan bangkai ayam mati maupun telur yang pecah
Segera singkirkan atau jauhkan bangkai (ayam mati) dari kandang

  • Bersihkan ransum dan feses yang tumpah segera, terlebih lagi jika kondisinya basah
  • Bersihkan kandang dan peralatan kandang secara rutin kemudian semprot dengan desinfektan seperti Antisep, Neo Antisep atau Medisep

  • Kontrol biologi
Terdengar asing ditelinga kita dengan istilah ini. Memang, karena teknik ini relatif jarang diaplikasikan peternak. Meskipun demikian, teknik ini terbukti ampuh dalam mengendalikan populasi lalat. Terbukti, dari sepasang lalat dalam waktu 3-4 hari tidak bisa menghasilkan lalat sebanyak 191,01 x 1018 ekor karena secara alami larva lalat telah dibasmi oleh “lawan” lalat. Selain itu, penggunaan teknik ini akan menjaga keseimbangan ekosistem kandang.
Parasit lalat biasanya membunuh lalat pada saat fase larva dan pupa. Spalangia nigroaenea merupakan sejenis tawon (lebah penyengat) yang menjadi parasit bagi pupa lalat. Mekanismenya ialah tawon dewasa bertelur pada pupa lalat, yaitu dibagian puparium (selubung pupa) dan perkembangan dari telur tawon memangsa pupa lalat (pupa lalat mati). Selain tawon, tungau (Macrochelis muscaedomesticae dan Fuscuropoda vegetans) dan kumbang (Carnicops pumilio, Gnathoncus nanus) juga merupakan “lawan” lalat.
Aplikasi dari teknik pengendalian lalat ini memerlukan suatu menajemen yang relatif sulit. Siklus hidup hewan pemangsa lalat tersebut juga relatif lebih lama. Selain itu, hewan pemangsa lalat ini dapat juga menjadi agen penularan penyakit. Meskipun demikian, keseimbangan ekosistem akan tetap terjaga, terlebih lagi keberadaan lalat di kandang juga membantu dalam proses dekomposisi (penguraian) feses atau sampah organik lainnya sehingga baik jika digunakan sebagai pupuk kompos.

  • Kontrol mekanik
Teknik pengendalian lalat ini relatif banyak diaplikasikan oleh masyarakat pada umumnya. Di pasaran, juga telah banyak dijual perangkat alat untuk membasmi lalat, biasanya disebut sebagai perangkap lalat. Perangkap tersebut bekerja secara elektrikal (aliran arus listrik) dan dilengkapi dengan bahan yang dapat menarik perhatian lalat untuk mendekat. Perangkap lalat seringkali diletakkan di tengah kandang. Di tempat penyimpanan telur sebaiknya juga diletakkan perangkap lalat ini.
Lalat tidak akan bergerak atau terbang melawan arus atau arah angin. Oleh karenanya tempatkan fan atau kipas angin dengan arah aliran angin keluar kandang atau ke arah pintu kandang. Penggunaan plastik yang berisi air (biasanya di warung makan) juga bisa digunakan untuk mengusir lalat meskipun mekanisme kerjanya belum diketahui. Teknik pengendalian lalat ini (kontrol mekanik) relatif kurang efektif untuk diaplikasikan ji-ka populasi lalat banyak.

  • Kontrol kimiawi
Teknik pengendalian lalat ini, seringkali menjadi andalan bagi peternak. Sedikit terlihat adanya peningkatan populasi lalat, peternak segera memberikan obat lalat. Namun, saat populasi lalat tidak menurun meski telah diberikan obat lalat, maka peternak akan langsung memberikan klaim maupun komplain ke produsen obat lalat tersebut. Kasus ini relatif sering terjadi. Lalu bagian manakah yang kurang tepat?
Point dasar yang perlu kita pahami bersama, bahwa pemberian obat lalat (kontrol kimiawi) bukan merupakan inti dari teknik pengendalian lalat, melainkan menjadi penyempurna dari teknik pengendalian lalat melalui teknik sanitasi dan desinfeksi kandang (teknik manajemen). Oleh karenanya, kita tidak bisa menggantungkan pembasmian lalat hanya dari pemberian obat lalat dan teknik pemberian obat lalat juga harus dilakukan dengan tepat.
Dari data yang kami peroleh, obat pembasmi lalat yang beredar di lapangan (Indonesia) dapat diklasifikasikan (berdasarkan kerja obat lalat pada tahapan siklus hidup lalat) menjadi 2 kelompok, yaitu obat lalat yang bekerja membunuh larva lalat dan membasmi lalat dewasa. Agar daya kerja obat lalat bisa optimal, maka pemilihan jenis obat harus disesuaikan dengan tahapan siklus hidup lalatnya. Jika tidak maka daya kerja obat tidak akan optimal. Cyromazine merupakan zat aktif yang digunakan untuk membunuh larva lalat sedangkan azamethipos dan cypermethrin merupakan zat aktif yang bekerja membunuh lalat dewasa. Penggunaan cyromazine untuk membasmi lalat dewasa tidak akan memberikan hasil yang optimal (lalat dewasa tidak bisa mati) dan begitu juga sebaliknya (pemberian cypermethrin tidak akan bisa membunuh larva lalat).
Perlu kita sadari bersama, keberadaan lalat di dalam kandang seperti fenomena gunung es. Lalat yang berkeliaran dan berterbangan di dalam kandang hanya 20% sedangkan lalat yang “tersembunyi” (telur, larva dan pupa) sesungguhnya jauh lebih banyak, yaitu 80%. Selain itu, pembasmian lalat dewasa akan menjadi lebih sulit karena mobilitas lalat yang tinggi dan kemampuan lalat untuk menghindar (mata majemuk). Oleh karena itu, pengendalian lalat sejak dini, yaitu saat stadium larva menjadi sebuah langkah teknik aplikatif yang bagus dalam membasmi keberadaan lalat.
Larvatox, mematikan lalat saat stadium larva sehingga pupa dan lalat tidak akan terbentuk

Untuk mendukung hal itu, Medion telah me-launching sebuah produk dengan kandungan zat aktif (cyromazine) yang ampuh dan efektif untuk membunuh larva lalat, yaitu Larvatox. Aplikasi Larvatox juga mudah, yaitu dicampur dalam ransum.
Percobaan potensi dan keamanan Larvatox telah dilakukan oleh intern Medion maupun bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada (UGM).

Grafik 1-4 tersebut menunjukkan bahwa pemberian Larvatox ampuh membasmi larva lalat (sehingga lalat tidak dapat terbentuk) tanpa menyebabkan gangguan produksi (tidak menurunkan produksi telur). Selain itu, pemberian Larvatox juga dapat membuat feses lebih kering (bisa membentuk “gunung”).
Campurkan 100 gram Larvatox dengan 5 kg ransum secara bertahap, kemudian campurkan dengan 1 ton ransum sampai homogen. Larvatox diberikan selama 4-6 minggu berturut-turut kemudian dihentikan selama 4-8 minggu dan gunakan kembali jika lalat terlihat mulai berkembang biak. Teknik pemberian Larvatox tersebut dimaksudkan untuk memutuskan siklus hidup lalat secara tuntas. Hal yang perlu diperhatikan ialah jangan menghentikan pemberian Larvatox sebelum 4-6 minggu meskipun populasi lalat telah berkurang karena kita tahu fenomena gunung es dari lalat (lalat yang nampak hanya 20% dari populasi lalat sesungguhnya). Selain itu, jangan mengurangi dosis Larvatox karena bisa mengakibatkan potensi obat tidak optimal dan dapat memicu resistensi obat.

Pengendalian lalat telah menjadi suatu keharusan. Terlebih lagi jika kita sudah mengerti tentang akibat yang ditimbulkannya, termasuk kemungkinan penutupan usaha kita. Agar lalat bisa terbasmi dengan baik, maka teknik pengendaliannya harus dilakukan secara sinergis dan komprehensif, yaitu menerapkan manajemen dengan baik (terutama penanganan feses) sekaligus melaksanakan kontrol kimiawi (dan atau kontrol biologi dan mekanik) secara tepat. Akhirnya, lalat pun terbasmi.

Info Medion Edisi Maret 2008


Jika Anda akan mengutip artikel ini, harap mencantumkan artikel bersumber dari Info Medion Online (http://info.medion.co.id).

Telusuri Kegagalan Vaksinasi

Kegagalan vaksinasi, suatu hal yang mungkin pernah kita alami dan jika belum pernah maka sudah selayaknya kita bersyukur dan berdoa jangan sampai terjadi. Kerapkali saat terjadi kegagalan vaksinasi kita langsung mempertanyakan bahkan beranggapan bahwa biang keladinya ialah kualitas vaksin yang kurang baik.
Perlu menjadi pemahaman kita bersama, keberhasilan vaksinasi bukan hanya ditentukan dari kualitas produk yang kita gunakan, melainkan ada beberapa faktor yang turut ambil bagian dalam hal itu, diantaranya :
  • Tata laksana vaksinasi yang meliputi cara penanganan dan penyimpanan vaksin, persiapan vaksin dan peralatan sebelum vaksinasi maupun ketepatan teknik vaksinasinya
  • Program vaksinasi yang diterapkan, termasuk jadwal pelaksanaan vaksinasinya
  • Status atau kondisi kesehatan axam
  • Penerapan program pendukung, seperti tata laksana pemeliharaan yang baik dan biosecurity yang ketat

Telusuri Kegagalan Vaksinasi
Terjadinya kegagalan vaksinasi yang ditunjukkan dari adanya outbreak penyakit perlu kita analisis secara lebih cermat dengan tetap mengedepankan objektivitas. Dengan demikian diharapkan hasil analisis tersebut akan sangat membantu dan bisa menjadi pedoman pada periode berikutnya. Skema 1 menunjukkan cara untuk melakukan penelusuran faktor penyebab kegagalan vaksinasi.
  • Outbreak di < 7 hari post vaksinasi
Munculnya penyakit yang terjadi pada 1-7 hari post vaksinasi kemungkinan besar bukan disebabkan kualitas vaksinnya. Dan bukanlah kandungan mikroorganisme dalam vaksinnya yang menjadi penyebab terjadinya outbreak tersebut.
Pada < 7 hari post vaksinasi titer antibodi belum terbentuk secara optimal atau mencapai standar protektif sehingga saat ada infeksi atau serangan bibit penyakit maka ayam belum memiliki sistem pertahanan yang kuat, akhirnya ayam sakit. Atau ada kemungkinan juga saat pelaksanaan vaksinasi di dalam tubuh ayam baru atau telah berlangsung masa inkubasi, yaitu masa dimana awal bibit penyakit menginfeksi sampai menimbulkan gejala klinis. Oleh karenanya saat vaksinasi ayam masih nampak sehat namun selang beberapa hari ayam menunjukkan gejala klinis atau sakit.
Vaksin, baik aktif maupun inaktif tidak akan bisa menyebabkan ayam sakit. Alasannya ialah kandungan mikroorganisme dalam vaksin telah melalui berbagai macam proses untuk menurunkan atau menghilangkan keganasan virus namun tetap memiliki kemampuan untuk menstimulasi pembentukan titer antibodi. Vaksin aktif misalnya, kandungan mikroorganisme vaksinnya telah dilemahkan sehingga tidak akan menyebabkan serangan penyakit.
Uji keamanan menjadi salah satu bagian dari proses QC vaksin dimana ayam divaksin dengan dosis yang berlipat dari dosis normalnya
Setiap produk vaksin Medion (Medivac) telah melalui tahapan quality control (QC) salah satunya uji keamanan. Uji keamanan ini dilakukan pada ayam percobaan dengan cara memvaksin memakai dosis berlipat dan vaksin dinyatakan lulus jika ayam tersebut tidak menunjukkan gejala klinis. Contohnya vaksin ND aktif, saat uji keamanan dosisnya dinaikkan menjadi 10x dari dosis normal dan untuk vaksin Gumboro aktif dosisnya menjadi 5x dosis normal. Uji keamanan pada vaksin inaktif dilakukan melalui pemberian 1 dosis secara suntikan intramuskuler sekaligus 1 dosis secara suntikan subkutan. Selain itu juga dilakukan uji inaktivasi dimana dalam produk vaksin inaktif tidak boleh terdapat mikroorganisme yang hidup. Proses QC Medivac lainnya ialah uji fisik, kandungan virus, sterilitas, kemurnian dan potensi. Melalui berbagai tahapan proses QC tersebut diharapkan Medivac tetap dan selalu berkualitas serta tidak akan menyebabkan ayam sakit.

  • Outbreak di > 7 hari post vaksinasi
Saat serangan atau outbreak penyakit terjadi setelah 7 hari vaksinasi maka setidaknya kita perlu melakukan evaluasi terhadap teknik vaksinasi yang dilakukan, penyakit yang menyerang, program vaksinasi, titer antibodi maupun kualitas produk (vaksinnya).
-  Teknik vaksinasi
Sebaik apa pun kualitas vaksin jika teknik aplikasi atau pemberiannya tidak baik maka bisa dipastikan efek pembentukkan titer antibodinya tidak akan optimal. Oleh karena itu setiap tahapan persiapan maupun pelaksanaan vaksinasi sebaiknya dilakukan secara tepat. Teknik vaksinasi yang kurang tepat, misalnya dosis vaksin yang tidak seragam akan memicu munculnya kasus rooling reaction dimana ayam seperti mengalami reaksi post vaksinasi yang berulang dan titer antibodi yang terbentuk juga tidak seragam. Secara lengkap teknik vaksinasi ini telah dibahas di Artikel Utama Info Medion edisi ini.
Immunosuppressant
Perlu diamati apakah penyakit yang menyerang hanya 1 jenis (tunggal) ataukah komplikasi. Bila penyakit komplikasi maka ada kemungkinan salah satu penyakit tersebut bersifat immunosuppresive yaitu penyakit yang menekan sistem pertahanan tubuh ayam. Serangan penyakit yang bersifat immunosuppressive, seperti Gumboro dan aflatoksikosis bisa mengganggu kerja vaksin dalam menstimulasi pembentukan titer antibodi.
Jika serangan penyakit hanya tunggal (jenis penyakit sama dengan vaksin yang diberikan, misalnya serangan ND setelah di vaksin ND) maka kita perlu melakukan evaluasi terhadap titer antibodi yang terbentuk dan biosecurity-nya. Selain itu, perlu di cek kembali tentang ketepatan program vaksinasinya, baik dari waktu atau jadwal vaksinasi maupun cara pemberian vaksinnya.
Pengecekan apakah farm lainnya terserang penyakit yang sama juga perlu kita lakukan. Jika farm lain tidak terserang maka evaluasi cukup dilakukan di farm kita. Namun apabila farm lain juga terjadi outbreak, sedangkan farm tersebut memakai vaksin yang sama dengan farm kita, maka perlu sekiranya kita juga melakukan evaluasi pada strain vaksin yang digunakan.
-  Program vaksinasi
Program vaksinasi hendaknya disesuaikan dengan umur serangan penyakit. Selain itu jenis vaksin juga menentukan program vaksinasinya. Secara umum vaksin aktif selambat-lambatnya diberikan 2-3 minggu sebelum umur serangan dan vaksin inaktif diberikan 3-4 minggu sebelum umur serangan. Jika jadwal vaksinasi ini terlambat atau serangan penyakit lebih cepat maka outbreak bisa terjadi karena titer antibodi di dalam tubuh ayam belum mencapai standar protektif.
Jika jadwal vaksinasi tepat maka sekiranya kita perlu mengevaluasi terhadap tata laksana vaksinasi, meliputi cara handling vaksin, dosis vaksin dan cara pemberian vaksin. Selain itu perlu diwaspadai tingginya tantangan bibit penyakit. Hal tersebut bisa disebabkan penerapan tata laksana pemeliharaan dan biosecurity yang kurang baik. Oleh karenanya perlu melakukan perbaikan pada tata laksana pemeliharaan dan biosecurity.
-  Kualitas vaksin
Setiap batch Medivac selalu terdata di Medion dan jika ada komplain produk vaksin kita bisa dengan mudah melakukan penelusuran. Disinilah pentingnya pencatatan no bacth dari vaksin yang digunakan. Saat ada kasus outbreak kita bisa melakukan evalusi terhadap produk kita. Jika outbreak banyak terjadi saat memakai produk itu maka produk itulah yang bermasalah. Namun jika hanya terjadi beberapa kasus pada batch tersebut maka kita harus melakukan analisis terhadap tata laksana vaksinasi, manajemen pemeliharaan dan biosecurity. Teknik penyimpanan dan penanganan vaksin sebelum digunakan juga perlu kita evaluasi kembali, diantaranya apakah sebelum digunakan suhu vaksin tetap 2-8oC atau pernahkah vaksin langsung terkena sinar matahari?

Penelusuran kegagalan vaksinasi harus dilakukan secara objektif dan komprehensif (menyeluruh) sehingga kita bisa menemukan akar permasalahannya dengan tidak menyalahkan suatu produk atau personal.

Info Medion Edisi Oktober 2008
Jika Anda akan mengutip artikel ini, harap mencantumkan artikel bersumber dari Info Medion Online (http://info.medion.co.id).

Evaluasi kegagalan Vaksinasi Korisa

Infectious Coryza (korisa) bukanlah suatu hal yang baru bagi kita semua terutama yang bergerak di bidang industri peternakan. Meskipun korisa tidak menyerang sistem reproduksi, bukan berarti tidak menyebabkan penurunan produksi telur. Penurunan nafsu makan menyebabkan nutrisi yang diperlukan tubuh tidak tercukupi sehingga produksi telur pun terganggu. Bahkan penurunan produksi dapat mencapai 10-40%. Akibat korisa, angka pengafkiran relatif tinggi serta terjadi peningkatan biaya untuk pengobatan. Pada ayam pedaging mengakibatkan pertumbuhan terganggu sehingga bobot badan tidak tercapai. Mencegah korisa pun bisa dibilang gampang-gampang susah. Hal ini terbukti berdasarkan hasil pemantauan tenaga lapangan Medion tahun 2007-2009, korisa selalu menduduki peringkat pertama pada ayam petelur.
Tabel 1. Ranking penyakit pada ayam petelur tahun 2007-2009
Sumber : Data Technical Service, Medion 2007-2009
Dari data tersebut dapat diketahui bahwa persentase kejadian korisa selalu menurun dari tahun ke tahun. Hal ini terjadi karena adanya program vaksinasi yang lebih baik dan juga didukung dengan biosecurity maupun manajemen.
Sekilas mengenai korisa, penyakit ini disebabkan oleh bakteri Haemophilus paragallinarum. Bakteri tersebut mudah mati bila di luar tubuh hospes (ayam) serta sensitif terhadap semua desinfektan. Tempat predileksi pada sinus infraorbitalis yang miskin dengan pembuluh darah. Pemberian obat pada kasus yang sudah parah relatif sulit untuk mendapatkan kesembuhan secara tuntas. Selain sifat tersebut, ayam yang sembuh dari serangan penyakit akan tetap membawa bibit penyakit (bersifat carrier/ pembawa). Atas dasar itulah, mengapa vaksinasi korisa menjadi penting guna mencegah kerugian yang lebih besar lagi.

 
Kebengkakan pada mata akibat korisa yang ditumpangi dengan bakteri E. coli
Namun terkadang beberapa peternak mengeluhkan mengapa ayam sudah divaksinasi korisa namun masih bisa terjadi outbreak. Apakah memang karena vaksin yang digunakan tidak berkualitas? Secara umum kegagalan vaksinasi dapat diartikan bahwa titer antibodi yang terbentuk dari hasil vaksinasi tidak mampu melawan infeksi dari lapangan. Jika dilihat dari kompleksnya faktor penyebab kegagalan vaksinasi, kita haruslah jeli dalam mengevaluasi.
Evaluasi pertama yang harus dilihat adalah kapan outbreak tersebut terjadi? Apabila outbreak terjadi pada < 3 minggu post vaksinasi, hal ini berarti antibodi yang dihasilkan oleh vaksin belum terbentuk secara optimal dan terjadi infeksi dari lapangan. Atau ada kemungkinan pada saat dilakukan vaksinasi, di dalam tubuh ayam sedang terjadi masa inkubasi penyakit. Masa inkubasi penyakit yaitu masa dimana bibit penyakit menginfeksi sampai menimbulkan gejala klinis sehingga ayam seolah-olah sehat namun selang beberapa hari ayam menunjukkan gejala klinis korisa.
Outbreak yang terjadi pada > 3 minggu post vaksinasi, maka kita perlu mengevaluasi faktor penyebab kegagalan tersebut meliputi: Materi, Metode, Mileu/ lingkungan dan Manusia (4M).
1.  Materi (Vaksin dan Ayam)
a.  Vaksin
Vaksin berkualitas merupakan syarat mutlak untuk keberhasilan vaksinasi karena berpengaruh langsung terhadap potensi virus vaksin. Produksi Medivac Coryza mengacu pada standar nasional yaitu Farma-kope Obat Hewan Indonesia (FOHI) dan juga standar internasional seperti United State Pharmacopoeia, British Pharmacopoeia dan European Pharmacopoeia. Sebelum dipasarkan, vaksin tersebut harus melalui tahapan quality control (QC), baik uji potensi maupun keamanannya.
Bakteri H. paragallinarum pada Medivac Coryza masih memiliki kapsul yang menyelubungi sel (transparan)
Bakteri H. paragallinarum pada Medivac Coryza setelah diinaktif masih memiliki kapsul yang menyelubungi sel. Tujuannya adalah untuk melindungi sisi antigenik bakteri tetap utuh. Sisi antigenik inilah yang berfungsi untuk menghasilkan kekebalan tubuh pada ayam.
Vaksin korisa merupakan vaksin bakteri sehingga relatif lebih sulit dalam merangsang respon kekebalan yang tinggi. Berbeda dengan vaksin virus yang mampu menstimulasi pembentukan antibodi protektif dengan perlindungan > 80 %, vaksin korisa hanya distandarkan memberikan perlindungan > 70 %.
Dalam mengevaluasi kualitas vaksin perlu diperhatikan pula tanggal kadaluwarsa dan bentuk fisik sediaan vaksin. Vaksin yang baik belum kadaluwarsa, masih tersegel serta tidak ada perubahan bentuk fisik sediaan. Vaksin inaktif bentuk suspensi (Medivac Coryza B/Medivac Coryza T) yang pernah membeku dapat teridentifikasi dengan kecepatan adjuvant mengendap dalam waktu kurang dari 5 menit. Sedangkan pada vaksin inaktif bentuk emulsi relatif sulit dibedakan secara fisik. Vaksin yang sudah kadaluwarsa dan pernah membeku jangan digunakan karena sudah terjadi penurunan bahkan kerusakan potensi vaksin.
Lakukan pencatatan terhadap no. batch vaksin. Setiap batch Medivac selalu terdata di Medion dan jika ada komplain produk vaksin kita bisa dengan mudah melakukan penelusuran.
Vaksin inaktif belum pernah membeku (atas); pernah membeku (bawah)
Vaksin korisa berisikan bakteri yang dimatikan. Vaksin harus selalu terkondisikan pada suhu 2-8° C dan tidak boleh beku selama di gudang penyimpanan maupun transport`si. Terkadang untuk kepraktisan, peternak mengunakan kantong kresek yang diisi dengan sedikit es batu untuk membawa vaksin. Tanpa di sadari, hal ini sedikit banyak akan mempengaruhi suhu vaksin sehingga dapat menyebabkan turunnya potensi vaksin. Distribusi vaksin dari kantor menuju kandang hendaknya menggunakan marina cooler atau styrofoam yang berisikan es batu.

b.  Kondisi Ayam
Kondisi ayam akan berpengaruh terhadap kemampuan pembentukan titer antibodi. Hanya ayam yang sehat yang boleh divaksinasi. Untuk itu diperlukan ketelitian dari peternak untuk melakukan pengecekan terhadap kesehatan ayam. Secara sepintas, pemeriksaan kesehatan dapat dilihat dari adanya gangguan pernapasan, pencernaan, syaraf maupun konsumsi pakannya.
Ayam sakit sebaiknya jangan divaksin
Terdapat beberapa faktor immunosupressant yang dapat menekan sistem kekebalan tubuh yaitu stres dan penyakit seperti CRD, gumboro, mikotoksin, dll yang dapat mempengaruhi keoptimalan dalam pembentukan titer antibodi. immnunosupressant akan mempengaruhi kelenjar adrenal untuk memproduksi hormon kortikosteroid. Hormon inilah yang akan menghambat kerja organ limfoid (pembentuk kekebalan tubuh) sehingga antibodi yang dihasilkan menjadi tidak optimal.
Apabila ayam dalam kondisi sakit, harus dilakukan pengobatan terlebih dahulu untuk mengurangi derajat keparahannya, kemudian baru divaksin. Guna meningkatkan daya tahan tubuh ayam di berikan multivitamin seperti Vita Stress sebelum dan sesudah vaksinasi.

2.  Metode
Kegagalan vaksinasi dapat disebabkan karena aplikasi/teknik vaksinasi yang tidak sesuai dengan petunjuk yang terdapat pada leaflet. Teknik ini terkait dengan persiapan dan penanganan vaksin, proses peningkatan suhu secara bertahap, kualitas alat suntik (Socorex) dan ketepatan jadwal vaksinasi.
Kesalahan penanganan vaksin dapat menyebabkan kerusakan potensi vaksin antara lain :
  • Penyimpanan vaksin tidak sesuai (tidak pada suhu 2-8° C) atau beku
  • Terkena sinar matahari langsung
  • Tercemar bahan-bahan kimia seperti desinfektan, kaporit, detergent
  • Tercemar logam-logam berat seperti Zn (seng), Pb (timbal) dan Hg (air raksa)
  • Vaksin inaktif tidak habis dalam waktu 24 jam setelah segel dibuka dan dikeluarkan dari kulkas/marina cooler
  • Setelah dikeluarkan dari kulkas/ marina cooler dan digunakan, vaksin dimasukkan kembali ke kulkas.
Vaksin inaktif yang baru dikeluarkan dari kulkas tidak boleh langsung disuntikkan ke ayam. Hal ini dikarenakan adanya perbedaan range suhu antara tubuh ayam dengan suhu vaksin yang cukup jauh sehingga dapat menyebabkan stres. Untuk meningkatkan suhu vaksin maka sebelum digunakan, vaksin harus terlebih dahulu digenggam-genggam dengan telapak tangan.
Vaksin inaktif harus sering dikocok selama pelaksanaan vaksinasi agar bakteri dan adjuvant dapat tercampur secara homogen. Pengocokan yang kurang akan mengakibatkan sebagian ayam hanya mendapatkan adjuvantnya saja dan dengan kata lain ayam tidak mendapatkan 1 dosis vaksin penuh.
Aplikasi vaksin korisa dilakukan dengan cara injeksi subkutan (bawah kulit leher) atau injeksi intramuskuler (otot dada atau otot paha). Metode penyuntikan yang kurang tepat dapat menyebabkan vaksin tidak masuk secara sempurna ke dalam tubuh ayam sehingga mempengaruhi keseragaman dosis vaksin. Keseragaman dosis vaksin akan berpengaruh terhadap keseragaman titer antibodi yang terbentuk.

Teknik penyuntikan yang tepat, injeksi subkutan (atas), injeksi intramuskuler pada paha (bawah)
Vaksinasi dengan cara penyuntikan harus dilakukan secara hati-hati. Bila dilakukan dengan ceroboh mengakibatkan kegagalan dan akan berakibat fatal. Akibat fatal yang mungkin terjadi antara lain ayam menjadi stres sehingga kematian tinggi pasca penyuntikan, leher terpuntir, terjadinya abses (kebengkakan) pada leher atau kelumpuhan kaki.
Alat suntik yang akan dipakai harus bersih dari sisa pemakaian vaksin sebelumnya serta dalam kondisi steril. Pemakaian alat suntik yang tidak steril atau berkarat dapat menyebabkan peradangan pada area bekas penyuntikan.
Peradangan pada daerah bekas injeksi akibat jarum suntik berkarat
Proses sterilisasi alat suntik dapat dilakukan dengan melepaskan spare part/bagian-bagian dari alat suntik, lalu dicuci dengan detergen kemudian direbus selama 30 menit dihitung dari air mulai mendidih. Sedangkan untuk memastikan volume vaksin, terutama setelah ada penggantian spare part, perlu dilakukan proses kalibrasi alat suntik. Kalibrasi secara sederhana dapat dilakukan dengan menggunakan metode volumetri yaitu dengan membandingkan volume cairan yang terdapat pada alat suntik dengan tabung ukur. Cara ini cukup praktis dan efisien sehingga keseragaman dosis vaksin yang diterima oleh ayam dapat seragam. Apabila volume yang terdapat pada alat suntik dengan tabung ukur tidak sama maka sebaiknya alat suntik tersebut tidak digunakan untuk vaksinasi. Alat suntik tersebut perlu dilakukan kalibrasi dengan metode gravimetri yang dilakukan oleh instansi tertentu (Medion).
Tabung ukur (kiri); Alat suntik socorex (kanan)
Ketepatan jadwal vaksinasi tidak boleh terlupakan dari bagian evaluasi ini. Vaksinasi yang terlalu sering maupun terlambat sama-sama memiliki resiko. Vaksinasi yang terlalu sering dapat menyebabkan stres pada ayam. Vaksinasi yang terlambat, dikhawatirkan ketika ada serangan dari lapangan, tubuh belum memiliki antibodi yang mampu menangkalnya. Alhasil, outbreak pun tak dapat terelakkan. Sebagai panduan umum vaksinasi korisa pada ayam petelur di berikan pada umur 6-8 minggu dan diulang pada umur 16-18 minggu. Sedangkan pada ayam pedaging diberikan pada umur 1-2 minggu. Namun jadwal vaksinasi tersebut juga disesuaikan dengan umur rawan serangan korisa. Vaksinasi hendaknya dilakukan minimal pada 3 minggu sebelum terjadinya outbreak berdasarkan sejarah kasus sebelumnya. Hal ini didasarkan pada waktu yang diperlukan oleh vaksin inaktif untuk membentuk titer antibodi protektif

3.  Mileu
Mileu merupakan segala sesuatu yang terkait antara lingkungan dengan peternakan. Meskipun program vaksinasi yang diberikan sudah tepat, namun bila jumlah bibit penyakit yang ada di lapangan tinggi maka tidak menutup kemungkinan titer antibodi yang terbentuk tidak mampu menahan serangan.
Penumpukan feses di bawah kandang
Hal-hal yang dapat memicu tingginya bibit penyakit di lapangan antara lain :
  • Penumpukan feses di kandang
  • Tempat pakan dan minum yang jarang dibersihkan
  • Penyemprotan kandang yang tidak intensif
  • Tidak dilakukan penyemprotan terhadap orang-orang yang akan masuk kandang
  • Lalu lintas orang/kendaraan yang keluar masuk kandang tidak terkontrol
  • Hewan liar/serangga/rodentia yang berperan dalam menularkan bibit penyakit tidak terkendali
  • Pemeliharaan serta managemen yang semrawut antara ayam dewasa dengan ayam kecil
  • Tidak menerapkan sistem “all in all out” terutama pada ayam petelur
Kita harus menyadari bahwa vaksinasi bukanlah satu-satunya cara untuk mencegah terjadinya penyakit. Sebagai pendukung keberhasilan vaksinasi, diperlukan pula serangkaian langkah untuk meminimalkan jumlah bibit penyakit yang ada di lapangan melalui sanitasi, desinfeksi serta biosecurity. Sehebat-hebatnya vaksin jika tanpa didukung dengan upaya tersebut maka hasilnya akan sia-sia.
Desinfeksi alas kaki sebelum masuk kandang untuk meminimalkan jumlah bibit penyakit


4. Manusia
Semua orang yang terkait dengan peternakan tersebut memiliki andil yang besar dalam mencegah terjadinya outbreak penyakit. Rendahnya pengetahuan dan kemampuan terutama dalam penanganan dan aplikasi vaksin merupakan titik awal dari berhasil atau tidaknya vaksinasi. Dengan demikian skill dan pengetahuan peternak maupun karyawan perlu ditingkatkan.
Pendidikan dan Pelatihan peternak, PT Medion

Peningkatan pengetahuan dapat dilakukan salah satunya dengan mengikuti kegiatan seminar, pendidikan dan pelatihan yang diadakan oleh instansi-instansi terkait. Pelatihan dan pembinaan juga dapat dilakukan secara langsung di lapangan.

Bagaimana jika terjadi outbreak korisa ?
Jangan hanya terlena dengan evaluasi, tindakan harus segera diambil guna mengantisipasi penyebaran yang lebih luas dan menekan keparahan penyakit. Langkah yang harus diambil adalah :
  1. Segera lakukan pemisahan/isolasi terhadap ayam yang sudah terlihat parah. Hal ini untuk meminimalisir penularan terutama dari lendir yang dikelurkan oleh ayam sakit
  2. Pemberian antibiotik spektrum luas serta memiliki daya serap tinggi ke jaringan seperti Proxan-C, Trimezyn-S, Neo Meditril atau Therapy. Jika kondisi ayam sudah parah dimana terjadi kebengkakan mata, maka pemberian obat yang paling efektif melalui injeksi. Antibiotik yang bisa diberikan Vet Strep, Gentamin, Medoxy-LA atau Neo Meditril-I
  3. Desinfeksi kandang dan tempat minum secara rutin sehari sekali. Lendir yang keluar dari hidung dan bercampur dengan air minum menjadi sumber penularan utama. Dengan demikian, perlu dilakukan desinfeksi air minum dengan Desinsep, Antisep atau Neo Antisep. Namun apabila sedang ada pengobatan via air minum, sebaiknya desinfeksi air minum dilakukan malam hari atau diendapkan terlebih dahulu minimal selama 12 jam.
  4. Pemberian multivitamin seperti Fortevit, Aminovit atau Vita Stress untuk membantu meningkatkan stamina serta mempercepat proses kesembuhan
  5. Jika perlu, pertimbangkan revaksinasi dengan menggunakan Medivac Coryza B/Medivac Coryza T suspension dengan dosis 0,5 ml tiap ekor
Medivac Coryza T Suspension (kiri) dan Medivac Coryza B (kanan)
Mengevaluasi kegagalan vaksinasi harus dilakukan secara cermat sehingga akan ditemukan akar permasalahannya serta dijadikan pembelajaran untuk ke depannya. Mengambil hikmah dari setiap kejadian merupakan hal terbaik untuk proses perbaikan. Demikian, semoga bermanfaat dan sukses selalu.


Info Medion Edisi September 2010
Jika Anda akan mengutip artikel ini, harap mencantumkan artikel bersumber dari Info Medion Online (http://info.medion.co.id).